Laman

Jumat, 16 November 2012

AGEMAN MANTEN GAGRAG SURAKARTA (SOLO BASAHAN)

Eheememmm..posting kali ini saya akan membahas mengenai nilai-nilai dari Ageman Solo Basahan. Kenapa saya membahas ini karena saya ingin di pernikahan saya kelak memakai pakaian atau ageman ini...ala putri kerajaan giituh,...apa daya orang tua tidak seetuju karena biayanya yang mahalll....saya khususon memilih topik ini karena saya adalah orang jawa, jawa Solo, dan saya bangga akan hal ini...karena bulek saya yang seorang perias manten jadi sudah terbiasa dengan adat-adat pernikahan jawa. Oh...mupeng kapan ya bisa didandanin gitu,,,hehehe...dengan senang hati saya akan menjelaskan nilai-nilai dari dandanan pengantin Solo Basahan ini..monggo diwaos..

SOLO BASAHAN

Salah satu jenis busana adat Surakarta/ Solo yang paling khas adalah pakaian yang digunakan dalam upacara pernikahan adat  keraton atau upacara pernikahan adat Surakarta pada umumnya. Busana yang lazim dikenal sebagai pakaian khas perkawinan adat Jawa, khususnya di keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta, adalah Solo Bahasan.
A.    Asal-usul Busana Solo Basahan
Pada masa Dinasti Mataram Islam yang telah runtuh , terjadi perkembangan mengenai produk kebudayaan yang bermuasal dari Mataram Islam. Ketika perjanjian Giyanti diadakan pada tahun 1755 yang menetapkan pemisahan wilayah  Mataram menjadi Kasunanan Surakarta hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Paes Ageng yang merupakan pusaka budaya tentang busana pernikahan adat Mataram diminta oleh Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengkubuwono I) yang kemudian menjadi raja di Kasultanan Ngayogyakarta. Sedangkan,  Sri Susuhunan Pakubuwono II yang bertahta di Kasunanan Surakarta hadiningrat merancang busana pengantin yang baru menggantikan Paes Agung. Busana rancangan itu kemudian dikenal dengan nama Solo Basahan dan digunakan sebagai pakaian adat resmi kerajaan dalam upacara pernikahan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Selain dipakai di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, ragam busana ini juga digunakan di Kadipaten Mangkunegaran  maupun  rakyat biasa (bisa dipakai rakyat biasa setelah memperoleh hadiah dari Sinuhun Paku Buwana II karena pengabdian dan ketulusan para rakyat pada raja saat pindah keraton menuju desa Sala).
B.     Busana Solo Basahan
Menurut tradisi Keraton Surakarta, busana yang di gunakan pada saat Upacara Pernikahan adalah Busana Kampuh/dodot yaitu kain khusus sepanjang +/- 4,5 m yang di hiasi taburan prada emas pada babaran kain nya, yaitu corak Alas- Alasan berwarna hijau yaitu corak yang terdiri dari aneka satwa dan tumbuhan yang ada di rimba / hutan seperti:
  1. garuda (makna nya dapat meninggikan kedudukan raja
  2. kura kura ( perlambang dunia bawah/bumi)
  3. ular ( perlambang air dan bumi)
  4. burung ( menggambarkan bahwa manusia akan selalu kembali ke pencipta)
  5. ayam jantan( simbol keberanian)
  6. gunung (simbol tempat bersemayamnya para dewa)
  7. gajah ( simbol kendaraan raja)
  8. harimau (simbol kewibawaan)
  9. kawung 9 (simbol kesucian dan umur panjang).
Secara keseluruhan, motif Alas Alasan merupakan simbol tentang kehidupan yang makmur dan sentosa (gemah ripah loh jinawi). Makna dari ragam busana Solo Basahan adalah berserah diri kepada kehendak Tuhan akan perjalanan manusia yang akan datang.

1.      Busana dan Riasan Pengantin Wanita
Pengantin wanita memakai dhodhot bangun tulak pola alas – alasan, sampur/ selendang sekar cinde arbit, dan kain cinde sekar merah.  Tata rias pengantin Solo Putri yaitu:
a.       Sanggul/Konde bokor mengkurep , Tata rambut pengantin dibuat seperti bokor tengkurap sehingga dinamakan  bokor mengkurep.
b.      Racik melati miji timun , sanggul rambut diisi dengan irisan daun pandan dan ditutup rajut bunga melati. Perpaduan  daun pandan dan bunga melati memancarkan keharuman yang berkesan religius, sehingga pengantin diharapkan dapat membawa nama harum yang berguna bagi masyarakat.
c.       Ronce bunga melati tibo dodo, pada bagian bawah agak ke arah kanan sanggul dipasang untaian melati berbentuk belalai gajah sepanjang 40 cm, diberi nama gajah ngoling. Hiasan ini bermakna bahwa pemakainya menunjukkan kesucian/kesakralan baik sebagai putri maupun kesucian niat dalam menjalani hidup yang sakral pula.
d.      Cunduk Menthul dan Pethat/sisir berbentuk gunung, diperindah perhiasan cundhuk sisir dan cundhuk mentul di bagian atas konde 5 tangkai bunga dipasang di atas  sanggul menghadap belakang, menggambarkan sinar matahari yang berpijar memberi kehidupan. 
e.       Kalung Sungsun (kalung terdiri 3 susun), melambangkan 3 tingkatan kehidupan manusia dari lahir, menikah, meninggal.
f.       Gelang Binggel Kana, berbentuk melingkar tanpa ujung pangkal yang melambangkan kesetiaan tanpa batas
g.      Kelat Bahu (perhiasan pada pangkal lengan), berbentuk seekor naga, kepala dan ekornya membelit. Melambangkan bersatunya pola rasa dan pikir yang mendatangkan kekuatan dalam hidup
h.      Centhung, perhiasan berupa sisir kecil bertahtakan berlian di letakkan diatas dahi pada sisi kiri dan kanan. Melambangkan bahwa pengantin putri telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tangga
i.        Cincin, putri tidak diperkenankan memakai cincin di jari tengah. Karena sebagai simbol satu perintah untuk diunggulkan, yaitu milik Tuhan. Cincin di jari manis sebagai simbol untuk senantiasa bertutur kata manis. Cincin di jari kelingking simbol untuk selalu terampil dan giat dalam mengerjakan pekerajaan rumah tangga. Cincin di ibu jari sebagai simbol untuk senantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik
j.        Paes. Tata rias wajah pengantin Putri laksana putri raja dengan paes hitam pekat menghiasi dahi. Sebelumnya, merias atau lazimnya disebut paes sesudah siraman dimaksud adalah melambangkan persiapan memperindah diri lahir batin. Menggingat makna yang dalam, pekerjaan paes diserahkan kepada juru paes yang punya daya batin yang baik dan luhur yang dapat ditularkan kepada calon mempelai. Dalam hal ini tata rias dilakukan oleh Pemaes. Pemaes, orang yang bertanggung jawab mengatur segala persiapan pernikahan adat Jawa, bertanggung jawab mengatur pakaian dan rias muka yang akan dikenakan oleh kedua pengantin. Paes dilakukan setelah dilakukannya pada upacara Ngerik.  Ngerik atau memotong rambut yang pertama-tama, dilakukan oleh ayah  calon mempelai waniata dengan disaksikan oleh ibunda nya, sebagai tanda pemberian ijin untuk upacara ngerik oleh pemaes. Ini mengandung arti bahwa sang ayah sudah rela dan ikhlas bahwa putrinya akan hidup sendiri dilingkungan orang lain. Upacara mengerik wulu kalong (bulu-bulu halus) disekitar dahi agar waktu dihias akan nampak bersih dan bersinar. Disamakan/ dinamakan dengan wulu kalong, karena kalong (kelelawar) meempunyai bulu-bulu yang sangat halus sama seperti rambut-rambut halus yang tumbuh di dahi para gadis. Tujuan utama menurut adat adalah agar si calon benar-benar bersih baik secara lahiriah maupun batiniah. Setelah itu, pengantin wanita dipaes hitam pekat menghiasi dahi.Paes memiliki makna sebagai berikut:
1)      Gajah – gajahan (bagian tengah dahi) : Gusti Ingkang Maha Kwaos
2)      Pengapit (pendamping di kiri dan kanan gajah-gajahan): Ibu
3)      Panitis (sebelah pengapit): Bapak
4)      Godheg (di sisi kedua telinga): Anak
Permohonan bahwa semua komponen keluarga bisa menjadi baik. maka ada kata “ABIMANYU”, yaitu Anak, Bapak, Ibu Manuggal Marsudi Yektining Urip.

2.      Busana dan Riasan Pengantin Pria
Pengantin pria memakai lembaran kain/jarik pola alas – alasan, sabuk besar, gesper sabuk miji jagung, kalung ulur dan memakai Kuluk Mathak (penutup kepala yang memanjang keatas). Perlengkapan yang biasa digunakan oleh pengantin pria diantaranya adalah kalung ulur, timang/ epek, cincin, bros, dan buntal. Bagi pengantin pria, cara meriasnya tidak serumit sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka, mata, alis, pip, hingga bibir.

C. Nilai-nilai yang Terkandung dalam Basahan Solo

Secara umum  masyarakat Surakarta maupun masyarakat Indonesia mengetahui ragam budaya busana pengantin Bahasan Solo tetapi tidak mengerti nilai-nilai yang terkandung dari busana maupun tata rias Pengantin Solo. Nilai-nilai yang terkandung pada busana Basahan Solo yaitu manusia harus berserah diri kepada kehendak Tuhan akan perjalanan  manusia yang akan datang dan berusaha mencapai kehidupan yang makmur dan sentosa (gemah ripah loh jinawi). Sedangkan tata rias pengantin Putri solo, menggambarkan bahwa seorang wanita menunjukkan kesucian/kesakralan baik sebagai putri maupun kesucian niat dalam menjalani hidup yang sakral dan  dapat membawa nama harum yang berguna bagi masyarakat. Kehidupan manusia dari lahir, menikah, meninggal. Tata rias Pengantin wanita juga  melambangkan persiapan memperindah diri lahir batin benar bersih baik secara lahiriah maupun batiniah bersatunya pola rasa dan pikir yang mendatangkan kekuatan dalam hidup dan telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tanggaserta senantiasa bertutur kata manissenantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik. Selain itu, terdapat tata rias yang selama ini masyarakat luas tidak mengetahui makna dari riasan tersebut. tata rias pada dahi (Paes) yaitu simbol sebagai permohonan bahwa semua komponen keluarga bisa menjadi baik. maka ada kata “ABIMANYU”, yaitu Anak, Bapak, Ibu Manuggal Marsudi Yektining Urip.

1 komentar: